BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makhluk hidup tidak dapat terbentuk
tanpa adanya organ pembentuknya. Sel merupakan unit terkecil pembentuk makhluk
hidup, dimana di dalam sel terdapat inti sel sebagai tempat terjadi seluruh
aktivitas sel. Sel-sel hidup itu bertambah besar, sementara berlangsung pula
penebalan-penebalan yang merupakan lapisan-lapisan dan lapisan-lapisan inilah
yang akhirnya akan melakukan fungsinya pula dengan demikian terbentuk jaringan.
Gabungan dari beberapa sel membentuk suatu jaringan yang akan membentuk organ,
gabungan beberapa organ akan membentuk sistem organ dan gabungan dari beberapa
sistem organ akan membentuk suatu individu (Anonim dalam Safitri, 2015).
Pada
awal perkembangan tumbuhan semua sel-sel melakukan pembelahan diri. Namun,
dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut, pembelahan sel menjadi
terbatas pada bagian khusus dari tumbuhan. Jaringan ini tetap bersifat
embrionik dan selalu membelah diri. Jaringan embrionik ini disebut meristem (Anonim
dalam Safitri, 2015).
Pada
dasarnya pembelahan sel dapat pula berlangsung pada jaringan selain meristem
(contohnya jaringan meristem batang), tetapi jumlah pembelahan sangat terbatas.
Sel-sel meristem akan tumbuh dan mengalami spesialisasi secara morfofisiologi membentuk
berbagai jaringan yang tidak mempunyai kemampuan untuk membelah diri. Jaringan
ini disebut jaringan dewasa (Anonim dalam
Monicha, 2013).
Alasan
saya melaksanakan praktikum yakni untuk mengetahui dan mengenal jaringan
tumbuhan seperti jagung, labu, ketela pohon, pisang, daun nanas dan daun cabe.
B.
Tujuan
Mengenal dan
menjelaskan sel dan jaringan penyusun tubuh tumbuhan. Melalui pengamatan
preparat basah kita dapat melihat akar, batang, daun, empulur, dan buah dari
tumbuhan monokotil dan dikotil
C.
Waktu
dan Tempat
Hari/Tanggal : Mingu , 10 Desember 2017
Pukul : 9:40 – 13:00 WITA
Tempat
: Lab.Fakultas Kesehatan Universitas
Sulawesi Barat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Jagung (Zea
Mays)
Jagung
merupakan tanaman
semusim biasa disebut annual. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam
80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif
dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung ini sangat
bervariasi. Tanaman jagung umumnya berketinggian
antara 1meter sampai 3meter (Anonim dalam
Fredi, 2017). Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan seperti padi,
pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini. Bunga betina jagung berupa
"tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan
"rambut". (Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik)
(Anonim dalam Fredi, 2017).
Akar
jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 meter meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2
meter. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku
batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Anonim dalam Fredi, 2017).
Batang
jagung tegak dan mudah terlihat sebagaimana tebu, namun tidak seperti padi atau
gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman
berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul
dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin
(Anonim dalam Fredi, 2017).
Daun
jagung adalah daun sempurna dengan bentuk memanjang. Antara pelepah dan helai
daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun.
Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung
berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae (Anonim dalam Fredi, 2017).
B.
Ketela Pohon
Umbi-umbian Singkong merupakan tumbuhan
jenis umbi akar atau akar pohon yang panjang fisik rata-rata bergaris tengah
2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam.
Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Ketela pohon, atau
yang lebih dikenal dengan Singkong atau ubi kayu, merupakan pohon tahunan
tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas
sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Umbi
singkong tidak tahan disimpan meskipun di tempatkan di lemari pendingin. Gejala
kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam
sianida yang bersifat racun bagi manusia (Anonim dalam Landep, 2016).
C.
Pisang
Pisang merupakan salah satu buah yang
paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Yang menjadi alasan digemari
buah yang berwarna kuning ini harganya yang cukup terjangkau dan juga memiliki
kandungan gizi serta vitamin yang cukup untuk menyehatkan badan. Secara umum, pisang dapat hidup di daerah
yang tinggi maupun rendah. Artinya dalam membudidayakan pisang tidak perlu
repot-repot untuk mencari daratan yang bagus dari segi permukaan. Agar tumbuhan
pisang berkembang dengan baik maka sebaiknya ditempatkan di atas
ketinggian 100 meter di atas permukaan
lautdengan kondisi tanah sedikit lembab dan terbuka. Selain kondisi di atas, tanaman
pisang akan berkembang dan tumbuh dengan baik apabila mudah terkena sinar matahari.
Begitu juga sebaliknya tumbuhan pisang tidak tumbuh di bawah genangan air
(Anonim dalam Aisyah, 2017).
D.
Daun Nanas
Karang
Tanaman
nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan Prennial. Tanaman nanas
terdiri dari akar, batang, bunga, buah, dan tunas-tunas. Daun
nanas panjang tidak mempunyai tulang utama. Pada daunnya ada yang tumbuh dari
duri dan ada yang tidak berduri tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung
daun. Daun nanas tumbuh memanjang sekitar 130-150cm, lebar antara 3-5cm atau
lebih. Permukaan daun sebelah atas halus mengkilap berwarna hijau tua.
Sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna ungu kecoklatan. Jumlah daun
tiap batang tanaman sangat bervariasi antar 70-80 helai yang tata letaknya
seperti spiral, yaitu mengelilingi batang mulai dari bawah sampai ke atas arah
kanan dan kiri (Anonim dalam Azhari,
2012).
E.
Daun
Cabe
Cabe merah merupakanbuah dan tumbuhan
anggota dari genus Capsicum. Tanaman
ini terkenaldan sangatlah terpopuler di asia tenggara. Tanaman ini tergolong
sayuran yang banyak sekali di budidayakan di Indonesia karena memiliki harga
yang sangatlah tinggi serta tanaman ini sangatlah bermanfaat bagi kesehatan
salah satunya adalah mengendalikan penyakit kanker (Anonim dalam Fredi, 2017).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Mikroskop
b. Lap
kasar/halus
c. Silet
tajam
d. Obyek
glass dan deck glass
2. Bahan
a. Akar,
batang, dan daun jagung (Zea mays)
b. Akar,
batang, dan daun labu (Cucurbita moshata)
c. Empulur
ketela pohon (Manihot utilissima)
d. Kerokan
daging buah pisang (Musa sp.)
e. Daun
nanas karang (Rhoeo discolor)
f. Daun
karet (Ficus elastica)
g. Daun
cabe (Capsicum sp.)
B.
Cara
Kerja
Adapun
cara kerja yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Tahap
persiapan preparat basah:
a. Menyiapkan
bahan yang akan dibuat menjadi preparat basah dan pisau silet yang tajam serta
kaca preparat.
b. Mengiris
sediaan dengan pisau silet secara melintang yang dimulai dari luar ke dalam
setipis mungkin.
c. Meletakkan
hasil irisan di atas kaca preparat kemudian memberikan setetes air lalu
menutupnya dengan kaca penutup (deck glass).
d. Untuk
pengamatan sel parenkim pada daging buah pisang melakukan dengan cara mengerok
daging buah pisang yang telah masak lalu
menempatkannya pada kaca benda lalu menetaskannya sedikit air lalu menutupnya
dengan kaca penutup.
2. Tahap
pengamatan:
a. Menyiapakan
mikroskop dengan terlebih dahulu melihat kelengkapannya (ingat mikroskop yang
digunakan harus bersih dan tidak boleh berjamur).
b. Meletakkan
mikroskop pada meja yang datar dan memulai mencari cahaya dengan cara memutar
cermin, kondensor, dan diafragma.
c. Setelah
cahaya sudah didapatkan, mengambil preparat basah yang akan diamati. Misalnya
preparat akar jagung, batang, dan daun.
d. Untuk
pengamatan pertama menggunakan perbesarankecil yaitu 5x atau 10x. Memutar
makrometer untuk mendapatkan bayangan obyek yang jelas. Menggambar hasil
pengamatan untuk perbesaran kecil.
e. Memutar
revolver untuk mengganti perbesaran besar yaitu 40x atau 45x. Setelah
menggunakan perbesaran besar, tidak boleh lagi memutar makrometer tetapi untuk
memperjelas bayangan obyek digunakan mikrometer.
f. Perbesaran
besar akan memperlihatkan bagian setiap preparat secara jelas. Menggambar hasil
pengamatanuntuk perbesaran besar, lalu membandingkannyadengan perbesaran kecil.
g. Setelah
mengamati semua preparat, membersihkan mikroskop dan menyimpannya pada kotaknya
dengan terlebih dahulu membersihkannya dari debu atau kotoran dengan
menggunakan kain planel halus (Sainab dalam
Penuntun Praktikum, 2017).
C.
Tugas
1. Apa
perbedaan mencolok antara penampang melintang akar monokotil dan dikotil?
2. Apa
perbedaan mencolok antara penampang melintang batang monokoyil dan dikotil?
3. Apa perbedaan mencolok
antara daun melintang monokotil dan dikotil?
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Akar,
batang, dan daun jagung
|
Gambar
|
Keterangan
|
![]() |
1. Xylem
2. Floem
3. Serabut
korteks luar
4. Korteks
parenkim
5. Parenkim
empelur
6. Endodermis
|
![]() |
1. Epidermis
2. Floem
3. Koretks
4. Xylem
|
|
|
1. Sel
tetangga
2. Klorofil
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar